Kabar Hangat Tahukah Anda? Insan Mempunyai Kemampuan Untuk Mengeluarkan Api
Motivation - Ketahuilah bahwa bukan dalam film saja insan sanggup mengeluarkan api, di dunia kasatmata juga pernah ada laporan dan file ya...
https://dailytimemedia.blogspot.com/2019/10/kabar-hangat-tahukah-anda-insan.html
Motivation - Ketahuilah bahwa bukan dalam film saja insan sanggup mengeluarkan api, di dunia kasatmata juga pernah ada laporan dan file yang menyampaikan bahwa kemampuan ini benar adanya. Hal ini sanggup tercapai dengan melaksanakan percepatan partikel untuk meningkatkan suhu sampai mencapai tingkat panas yang ekstrem dan sanggup memancarkan bunga api sehingga sanggup mengeluarkan api. Sebagian besar orang dengan karunia ini mempunyai kemampuan untuk meningkatkan suhu pribadi mereka untuk menghangatkan tubuh, bahkan dalam kondisi paling dingin.
Dalam beberapa tradisi pyrokinetic (orang yang sanggup memakai pyrokinesis) sanggup membuat api, tetapi secara "teknis" pyrokinetic hanya sanggup memanipulasi api, meskipun mereka sanggup mengkremasi materi gampang terbakar, membuat api setelahnya. Kemampuan untuk membuat api dari udara tipis, tanpa materi gampang terbakar, disebut "pyrogenesis."
Pyrokinesis berada di bawah payung telekinesis (atau, kadang-kadang, psikokinesis) dimana seorang praktisi memakai pikirannya untuk menghipnotis dunia fisik di sekitar mereka. Secara tradisional seorang pyrokinetic sanggup menyalakan api ketika kondisi sesuai dengan pasokan yang cukup untuk membuat api, yaitu materi bakar, oksigen dan panas, kemudian memanipulasi intensitas api dan arah di mana bahan-bahan itu berada. Kaprikornus pyrokinetic sanggup mengobarkan setumpuk surat kabar dan tidak mengkremasi tirai di dekatnya, atau mengakibatkan api menyebar dengan cepat melalui kawasan tertentu pada kecepatan yang tidak wajar.
Walaupun tidak ada eksperimen empiris yang telah terbukti sesuai dengan yang ditampilkan oleh tradisi pyrokinesis terkenal , kemampuan untuk menghasilkan panas telah ditunjukkan oleh praktisi seni bela diri tertentu.
Seniman bela diri ini, dengan memanipulasi energi "chi", mereka sanggup memancarkan panas dari tangan mereka atau penggalan lain dari badan mereka. Beberapa beropini bahwa kemampuan ini tidak "benar" melainkan hanya pyrokinesis berbentuk bio feedback dan sekedar kontrol, meningkatkan dan peningkatan kemampuan alami badan untuk menghasilkan panas, sementara yang lain menyampaikan bahwa itu yakni kemampuan manipulasi pikiran dunia materi dan dengan demikian memenuhi syarat sebagai (telekinesis).
Banyak yang mempunyai kemampuan ini bekerja dengan energi negatif yang cenderung lebih hangat kemudian berubah bentuk ke energi positif.Pemilik kemampuan ini cenderung penuh energi negatif dan dengan demikian sangat panas bila disentuh, atau dalam kekurangan energi negatif sehingga menjadikannya cukup beku untuk disentuh.
Fenomena yang dialami para penderita pyrokinetics, berbeda dengan yang disebut penghangusan badan secara impulsif atau Spontaneous human combustion (SHC). SHC sering berakibat fatal, sebab panas yang terjadi bisa mengubah badan menjadi setumpuk bubuk hanya dalam beberapa menit. Bisa dibayangkan seberapa besar lengan berkuasa panasnya, bila dibandingkan dengan pembakaran mayit di krematorium yang memakai panas pada suhu 1.110 derajat C. Perlu waktu 8 jam untuk mengkremasi mayit di situ. Itupun, bekas yang ditinggalkan tidak menyerupai pada insiden SHC.
SHC yakni fenomena yang tidak secara eksklusif berkaitan dengan pyrokinesis, tetapi kesimpulan logis yang didapat dan telah ditarik diantara keduanya yakni jikalau seseorang tiba-tiba terbakar tanpa alasan yang sanggup dipahami tentu saja sanggup menjadi sasaran pyrokinetic, jikalau seseorang mengandaikan adanya semacam itu. Teori-teori lain di sekitar keduanya, SHC dan praktisi pyrokinesis yang berjuang untuk mengendalikan kemampuan mereka dan secara tidak sengaja mengubahnya pada diri mereka sendiri, sehingga terjadilah SHC.
Willy Brough (12) dari Turlock, Kalifornia, misalnya, diduga bisa menyalakan api hanya dengan memandangnya. Akibatnya, ia harus mendapatkan saja ketika diusir keluarganya sebab dianggap kerasukan roh jahat.Untunglah, seorang petani yang tinggal bersahabat rumahnya mau memungut bocah itu dan kembali menyekolahkannya. Namun sayang, di sekolah gres ini ia hanya bertahan 1 hari. Karena hanya dalam sehari itu, lima ruang kelas dilalap api yang bersumber dari sorot matanya.
Contoh lainnya yakni Benedetto Supino dari Formia, bersahabat Roma, yang selanjutnya mejadi perhatian masyarakatnya. Bermula pada tahun 1982, ketika buku komik yang dibacanya di ruang tunggu dokter gigi tiba-tiba menyala. Sejak itu, ia dan keluarganya dikejutkan oleh beberapa kebakaran. Meja-kursi dan majemuk barang lainnya terbakar setiap kali Benedetto melewatinya, termasuk juga seprai tempat tidurnya, atau barang-barang yang dipegangnya, terutama buku. Demikian pula dengan barang yang dipandangnya dengan serius, menyerupai yang pernah terjadi pada benda plastik yang dipegang pamannya.
Kemampuan itu membuat Benedetto merasa sangat malu, bahkan tertekan. Sementara para ilmuwan tidak bisa banyak membantunya. Profesor Mario Scuncio dari Pusat Kesehatan Sosial Tivoli misalnya, justruu menawarkan diagnosis yang agak janggal dengan menilai kondisi kejiwaan anak pria yang pendiam dan kutu buku itu sangat normal.
Dr. Giovanni Ballesio, dekan jurusan pengobatan kesehatan dari Rome University, yang pernah menyidik kemungkinan ketidaknormalan pada orang yang mempunyai kemampuan membangkitkan listrik tinggi pun tidak bisa menemukan klarifikasi apa-apa di balik semua kebakaran itu. Benedetto hanya menyandarkan harapannya pada parapsikolog Demetrio Croce yang mencoba mengajarkan bagaimana mengontrol kemampuannya itu.
Nasib mengenaskan lain dialami Jennie Bramwell yang yatim piatu. Hanya dalam beberapa ahad sehabis diadopsi, di rumah Dawson, keluarga angkatnya di Thorah Island, Ontario. Telah terjadi berpuluh kali kebakaran kecil. Api yang menjilat langit-langit, dinding, perabotan, handuk, bahkan kucing kesayangan keluarga, terjadi impulsif dikala Jennie ada di dekatnya. Jennie pun dikembalikan ke rumah yatim piatu.
Kemampuan menyerupai juga dikembangkan teratur oleh para biksu Tibet bahkan hal ini diujikan dalam proses inisiasi mereka, dengan membungkus diri dalam lembaran kain dan kertas basah, dan menghabiskan malam di pegunungan yang dingin, duduk di salju. Di pagi hari, jikalau mereka lulus ujian, kertas dan kain akan mengering dan beberapa salju yang menyentuh tulang kaki di sekitar biarawan akan meleleh.
Tekhnik mereka ini disebut memperluas sushumna . Sushumna yakni jalur dari perjalanan kundalini sampai tulang belakang. Memperluas sushumna dipakai untuk meningkatkan suhu badan dan membuat panas. Kemampuan ini juga sanggup diterapkan untuk pyrokinesis (mengatur benda-benda sampai sanggup terbakar dengan kekuatan pikiran).