Kabar Hangat Siapkah Anda Bertemu Bulan Ramadhan Yang Akan Datang?
Motivation - Sebagai umat muslim, kita patut bersyukur sanggup bertemu dengan bulan Ramadhan ini, Bulan yang disebut sebagai bulan abolisi...
https://dailytimemedia.blogspot.com/2019/10/kabar-hangat-siapkah-anda-bertemu-bulan.html
Motivation - Sebagai umat muslim, kita patut bersyukur sanggup bertemu dengan bulan Ramadhan ini, Bulan yang disebut sebagai bulan abolisi dosa. Jika kita mengingat kembali dosa kita yang bertumpuk - tumpuk menyerupai gunung, maka bulan ini menjadi bulan yang paling kita nantikan.
Bersyukurlah atas nikmat ini. Betapa Allah ta’ala senantiasa melihat kemaksiatan kita sepanjang tahun, tetapi Dia menutupi malu kita, memaafkan dan menunda simpulan hidup kita hingga sanggup berjumpa kembali dengan Ramadhan.
Bersyukurlah atas nikmat ini. Betapa Allah ta’ala senantiasa melihat kemaksiatan kita sepanjang tahun, tetapi Dia menutupi malu kita, memaafkan dan menunda simpulan hidup kita hingga sanggup berjumpa kembali dengan Ramadhan.
Ketidaksiapan yang Berbuah Pahit
Imam Abu Bakr Az Zur’i rahimahullah memaparkan dua masalah yang wajib kita waspadai. Salah satunya ialah [اَلتَّهَاوُنُ بِالْأَمْرِ إِذَا حَضَرَ وَقْتُهُ], yaitu kewajiban telah tiba tetapi kita tidak siap untuk menjalankannya. Ketidaksiapan tersebut salah satu bentuk meremehkan perintah. Akibatnya pun sangat besar, yaitu kelemahan untuk menjalankan kewajiban tersebut dan terhalang dari ridha-Nya. Kedua efek tersebut merupakan sanksi atas ketidaksiapan dalam menjalankan kewajiban yang telah nampak di depan mata.
Abu Bakr Az Zur’i menyitir firman Allah ta’ala berikut,
“Maka bila Allah mengembalikanmu kepada suatu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), Maka katakanlah: “Kamu dihentikan keluar bersamaku selama-lamanya dan dihentikan memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kau telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. lantaran itu duduklah bersama orang-orang yang tidak ikut berperang.” (At Taubah: 83).
Renungilah ayat di atas baik-baik! Ketahuilah, Allah ta’ala tidak menyukai keberangkatan mereka dan Dia lemahkan mereka, lantaran tidak ada persiapan dan niat mereka yang tidak lurus lagi. Namun, bila seorang bersiap untuk menunaikan suatu amal dan ia bangun menghadap Allah dengan kerelaan hati, maka Allah terlalu mulia untuk menolak hamba yang tiba menghadap-Nya. Berhati-hatilah dari mengalami nasib menjadi orang yang tidak layak menjalankan perintah Allah ta’ala yang penuh berkah.
Seringnya kita mengikuti hawa nafsu, akan menyebabkan kita tertimpa sanksi berupa tertutupnya hati dari hidayah.
Allah ta’ala berfirman,
“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka menyerupai mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (Al An’am: 110).
Abu Bakr Az Zur’i menyitir firman Allah ta’ala berikut,
فَإِنْ رَجَعَكَ اللَّهُ إِلَى طَائِفَةٍ مِنْهُمْ فَاسْتَأْذَنُوكَ لِلْخُرُوجِ فَقُلْ لَنْ تَخْرُجُوا مَعِيَ أَبَدًا وَلَنْ تُقَاتِلُوا مَعِيَ عَدُوًّا إِنَّكُمْ رَضِيتُمْ بِالْقُعُودِ أَوَّلَ مَرَّةٍ فَاقْعُدُوا مَعَ الْخَالِفِينَ (83)
“Maka bila Allah mengembalikanmu kepada suatu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), Maka katakanlah: “Kamu dihentikan keluar bersamaku selama-lamanya dan dihentikan memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kau telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. lantaran itu duduklah bersama orang-orang yang tidak ikut berperang.” (At Taubah: 83).
Renungilah ayat di atas baik-baik! Ketahuilah, Allah ta’ala tidak menyukai keberangkatan mereka dan Dia lemahkan mereka, lantaran tidak ada persiapan dan niat mereka yang tidak lurus lagi. Namun, bila seorang bersiap untuk menunaikan suatu amal dan ia bangun menghadap Allah dengan kerelaan hati, maka Allah terlalu mulia untuk menolak hamba yang tiba menghadap-Nya. Berhati-hatilah dari mengalami nasib menjadi orang yang tidak layak menjalankan perintah Allah ta’ala yang penuh berkah.
Seringnya kita mengikuti hawa nafsu, akan menyebabkan kita tertimpa sanksi berupa tertutupnya hati dari hidayah.
Allah ta’ala berfirman,
وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ (110)
“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka menyerupai mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (Al An’am: 110).
Persiapkan Amal Shalih dalam Menyambut Ramadhan
Bila kita menginginkan kebebasan dari neraka di bulan Ramadhan dan ingin diterima amalnya serta dihapus segala dosanya, maka harus ada bekal yang dipersiapkan.
Allah ta’ala berfirman,
وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ (46)
“Dan bila mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan cita-cita mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kau bersama orang-orang yang tinggal itu.” (At Taubah: 46).
Harus ada persiapan! Dengan demikian, tersingkaplah ketidakjujuran orang-orang yang tidak mempersiapkan bekal untuk berangkat menyambut Ramadhan. Oleh alasannya ialah itu, dalam ayat di atas mereka dieksekusi dengan banyak sekali bentuk kelemahan dan kehinaan disebabkan keengganan mereka untuk melaksanakan persiapan.
Sebagai persiapan menyambut Ramadhan, Rasulullah memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. ‘Aisyah radhiallahu ‘anhu berkata,
وَلَمْ أَرَهُ صَائِمًا مِنْ شَهْرٍ قَطُّ أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً
“Saya sama sekali belum pernah melihat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dalam satu bulan sebanyak puasa yang ia lakukan di bulan Sya’ban, di dalamnya ia berpuasa sebulan penuh.” Dalam riwayat lain, “Beliau berpuasa di bulan Sya’ban, kecuali sedikit hari.”
Beliau tidak terlihat lebih banyak berpuasa di satu bulan melebihi puasanya di bulan Sya’ban, dan ia tidak menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan.
Generasi emas umat ini, generasi salafush shalih, meeka selalu mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Sebagian ulama salaf mengatakan,
كَانُوا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ
”Mereka (para sahabat) berdo’a kepada Allah selama 6 bulan semoga mereka sanggup menjumpai bulan Ramadlan.”
Tindakan mereka ini merupakan perwujudan kerinduan akan datangnya bulan Ramadhan, permohonan dan bentuk ketawakkalan mereka kepada-Nya. Tentunya, mereka tidak hanya berdo’a, namun persiapan menyambut Ramadhan mereka iringi dengan banyak sekali amal ibadah.
Abu Bakr al Warraq al Balkhi rahimahullah mengatakan,
شهر رجب شهر للزرع و شعبان شهر السقي للزرع و رمضان شهر حصاد الزرع
“Rajab ialah bulan untuk menanam, Sya’ban ialah bulan untuk mengairi dan Ramadhan ialah bulan untuk memanen.”
Sebagian ulama yang lain mengatakan,
السنة مثل الشجرة و شهر رجب أيام توريقها و شعبان أيام تفريعها و رمضان أيام قطفها و المؤمنون قطافها جدير بمن سود صحيفته بالذنوب أن يبيضها بالتوبة في هذا الشهر و بمن ضيع عمره في البطالة أن يغتنم فيه ما بقي من العمر
“Waktu setahun itu laksana sebuah pohon. Bulan Rajab ialah waktu menumbuhkan daun, Syaban ialah waktu untuk menumbuhkan dahan, dan Ramadhan ialah bulan memanen,
pemanennya ialah kaum mukminin. (Oleh lantaran itu), mereka yang “menghitamkan” catatan amal mereka hendaklah bergegas “memutihkannya” dengan taubat di bulan-bulan ini, sedang mereka yang telah menyia-nyiakan umurnya dalam kelalaian, hendaklah memanfaatkan sisa umur sebaik-baiknya (dengan mengerjakan ketaatan) di waktu tesebut.”
Wahai kaum muslimin, semoga buah sanggup dipetik di bulan Ramadhan, harus ada benih yang disemai, dan ia harus diairi hingga menghasilkan buah yang rimbun. Puasa, qiyamullail, bersedekah, dan banyak sekali amal shalih di bulan Rajab dan Sya’ban, semua itu untuk menanam amal shalih di bulan Rajab dan diairi di bulan Sya’ban.
Tujuannya semoga kita sanggup memanen kelezatan puasa dan berzakat shalih di bulan Ramadhan, lantaran lezatnya Ramadhan hanya sanggup dirasakan dengan kesabaran, perjuangan, dan tidak tiba begitu saja. Hari-hari Ramadhan tidaklah banyak, perjalanan hari-hari itu begitu cepat. Oleh alasannya ialah itu, harus ada persiapan yang sebaik-baiknya.
Jangan Lupa, Perbarui Taubat!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُون
“Setiap keturunan Adam itu banyak melaksanakan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa ialah yang bertaubat.”
Taubat menawarkan tanda totalitas seorang dalam menghadapi Ramadhan. Dia ingin memasuki Ramadhan tanpa adanya sekat-sekat penghalang yang akan memperkeruh perjalanan selama mengarungi Ramadhan.
Allah memerintahkan para hamba-Nya untuk bertaubat, lantaran taubat wajib dilakukan setiap saat. Allah ta’ala berfirman,
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (31)
“Bertaubatlah kau sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kau beruntung.” (An Nuur: 31).
Taubat yang diperlukan bukanlah menyerupai taubat yang sering kita kerjakan. Kita bertaubat, pengecap kita mengucapkan, “Saya memohon ampun kepada Allah”, akan tetapi hati kita lalai, akan tetapi sesudah ucapan tersebut, dosa itu kembali terulang. Namun, yang diperlukan ialah totalitas dan kejujuran taubat.
Wahai kaum muslimin, mari kita persiapkan diri kita dengan memperbanyak amal shalih di dua bulan ini, Rajab dan Sya’ban, sebagai modal awal untuk mengarungi bulan
Ramadhan yang akan tiba sebentar lagi.
Ya Allah mudahkanlah dan bimbinglah kami. Amin.
Waffaqaniyallahu wa iyyakum.


