Kabar Hangat Jangan Tinggalkan Shalat Dikala Berpuasa! Mengapa? Baca Ini
Motivation - Di Bulan Ramadhan, Khususnya bagi para kaum dewasa muda mudi terkadang masih banyak yang melalaikan shalatnya. Setelah Sahur ...
https://dailytimemedia.blogspot.com/2019/10/kabar-hangat-jangan-tinggalkan-shalat.html
Motivation - Di Bulan Ramadhan, Khususnya bagi para kaum dewasa muda mudi terkadang masih banyak yang melalaikan shalatnya. Setelah Sahur dan makan banyak, apalagi dikala suasana sedang hambar dan hujan turun, mereka lebih menentukan tidur daripada menunggu adzan subuh.
Mereka biasanya gres akan shalat subuh dikala mereka terbangun dan hari sudah terang, malah adapula yang tidur dan sampai berdiri dikala adzan dhuhur berkumandang. Dengan demikian, ia telah meninggalkan shalat subuhnya. Apakah Puasanya diterima?
Seseorang pernah bertanya pada Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin -rahimahullah - “Apa aturan orang yang berpuasa namun meninggalkan shalat?”
Beliau rahimahullah menjawab:
“Puasa yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat tidaklah diterima lantaran orang yang meninggalkan shalat yakni kafir dan murtad. Dalil bahwa meninggalkan shalat termasuk bentuk kekafiran yakni firman Allah Ta’ala,
“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) yakni saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (Qs. At Taubah [9]: 11)
Alasan lain yakni sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran yakni meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 82)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) yakni mengenai shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka beliau telah kafir.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani)
Pendapat yang menyampaikan bahwa meninggalkan shalat merupakan suatu kekafiran yakni pendapat lebih banyak didominasi sahabat Nabi bahkan sanggup dikatakan pendapat tersebut yakni ijma’ (kesepakatan) para sahabat.
‘Abdullah bin Syaqiq –rahimahullah- (seorang tabi’in yang sudah masyhur) mengatakan, “Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amalan yang apabila seseorang meninggalkannya akan menyebabkan beliau kafir selain kasus shalat.” [Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari 'Abdullah bin Syaqiq Al 'Aqliy; seorang tabi'in. Hakim menyampaikan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini yakni shohih.]
Oleh lantaran itu, apabila seseorang berpuasa namun beliau meninggalkan shalat, puasa yang beliau lakukan tidaklah sah (tidak diterima). Amalan puasa yang beliau lakukan tidaklah bermanfaat pada hari simpulan zaman nanti.
Oleh lantaran itu, kami katakan, “Shalatlah lalu tunaikanlah puasa.” Adapun bila engkau puasa namun tidak shalat, amalan puasamu akan tertolak lantaran orang kafir (karena lantaran meninggalkan shalat) tidak diterima ibadah dari dirinya.
Mereka biasanya gres akan shalat subuh dikala mereka terbangun dan hari sudah terang, malah adapula yang tidur dan sampai berdiri dikala adzan dhuhur berkumandang. Dengan demikian, ia telah meninggalkan shalat subuhnya. Apakah Puasanya diterima?
Seseorang pernah bertanya pada Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin -rahimahullah - “Apa aturan orang yang berpuasa namun meninggalkan shalat?”
Beliau rahimahullah menjawab:
“Puasa yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat tidaklah diterima lantaran orang yang meninggalkan shalat yakni kafir dan murtad. Dalil bahwa meninggalkan shalat termasuk bentuk kekafiran yakni firman Allah Ta’ala,
فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) yakni saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (Qs. At Taubah [9]: 11)
Alasan lain yakni sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ
“Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran yakni meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 82)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) yakni mengenai shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka beliau telah kafir.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani)
‘Abdullah bin Syaqiq –rahimahullah- (seorang tabi’in yang sudah masyhur) mengatakan, “Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amalan yang apabila seseorang meninggalkannya akan menyebabkan beliau kafir selain kasus shalat.” [Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari 'Abdullah bin Syaqiq Al 'Aqliy; seorang tabi'in. Hakim menyampaikan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini yakni shohih.]
Oleh lantaran itu, apabila seseorang berpuasa namun beliau meninggalkan shalat, puasa yang beliau lakukan tidaklah sah (tidak diterima). Amalan puasa yang beliau lakukan tidaklah bermanfaat pada hari simpulan zaman nanti.


