Kabar Hangat Inilah Yang Dilakukan Rasulullah Di Bulan Ramadhan
Motivation - Mengikuti petunjuk Nabi صلي الله عليه وسلم yang mulia dalam melaksanakan ketaatan ialah hal yang sangat urgen, terlebih...
https://dailytimemedia.blogspot.com/2019/10/kabar-hangat-inilah-yang-dilakukan.html
Artikel ringkas ini, di bagikan semata - mata untuk mempelajari prilaku Rasûlullâh di bulan Ramadhân biar kita sanggup meneladaninya. Karena orang yang tidak berada diatas petunjuk Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم di dunia dia tidak akan sanggup bersama ia صلي الله عليه وسلم di akhirat. Kebahagiaan tertinggi akan sanggup diraih oleh seseorang ketika ia mengikuti petunjuk Rasûlullâh secara lahir dan batin. Dan seseorang tidak akan sanggup mengikuti Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم kecuali dengan ilmu yang bermanfaat. Ilmu itu tidak akan disebut bermanfaat kecuali bila diiringi dengan amalan yang shalih. Makara amalan shalih merupakan buah ilmu yang bermanfaat.
Dibawah ini ialah beberapa kebiasaan dan petunjuk Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم pada bulan Ramadhân :
- Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم tidak akan memulai puasa kecuali jikalau ia sudah benar-benar melihat hilal atau menurut gosip dari orang yang sanggup dipercaya wacana munculnya hilal atau dengan menyempurnakan bilangan Sya'bân menjadi tiga puluh.
- Berita wacana terbitnya hilal tetap ia صلي الله عليه وسلم terima sekalipun dari satu orang dengan catatan orang tersebut sanggup dipercaya. Ini mengambarkan bahwa khabar minggu sanggup diterima.
- Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم melarang umatnya mengawali Ramadhân dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya kecuali puasa yang sudah terbiasa dilakukan oleh seseorang. Oleh sebab itu, ia n melarang umatnya berpuasa pada hari Syak (yaitu hari yang masih diragukan, apakah sudah tanggal satu Ramadhan ataukah masih tanggal 30 Sya'bân-red)
- Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم berniat untuk melaksanakan puasa ketika malam sebelum terbit fajar dan ia صلي الله عليه وسلم menyuruh umatnya untuk melaksanakan hal yang sama.
- Hukum ini hanya berlaku untuk puasa-puasa wajib, tidak untuk puasa sunat.
- Beliau صلي الله عليه وسلم tidak memulai puasa hingga benar-benar terlihat fajar shadiq dengan jelas. Ini dalam rangka merealisasikan firman Allâh عزّوجلّ : وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
"Dan makan serta minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar". (QS. al-Baqarah/2:187) - Beliau صلي الله عليه وسلم telah menjelaskan kepada umatnya bahwa fajar itu ada dua macam fajar shâdiq dan kâdzib. Fajar kadzib tidak menghalangi seseorang untuk makan, minum, atau menggauli istri. Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم tidak pernah ekstrem kepada umatnya, baik pada bulan Ramadhân ataupun bulan lainnya. Beliau صلي الله عليه وسلم tidak pernah mensyari'atkan adzan (pemberitahuan) wacana imsak.
- Beliau صلي الله عليه وسلم menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Beliau صلي الله عليه وسلم bersabda :لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
"Umatku senantiasa baik selama mereka menyegerakan berbuka" - Jarak antara sahur Rasûlullâh dan iqâmah seukuran bacaan lima puluh ayat
- Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم mempunyai adat yang sangat mulia. Beliau صلي الله عليه وسلم ialah orang yang paling mulia akhlaknya. Bagaimana tidak, adat ia ialah al-Qur'ân, sebagaimana diceritakan oleh Aisyah رضي الله عنها. Beliau صلي الله عليه وسلم sangat menganjurkan umatnya untuk berakhlak mulia, orang-orang yang sedang menunaikan ibadah berpuasa. Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم bersabda :مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkatan dan perbuatan dusta, maka tidak membutuhkan puasanya sama sekali". - Rasûlullâh sangat memperhatikan muamalah yang baik dengan keluarganya. Pada bulan Ramadhân, kebaikan ia صلي الله عليه وسلم kepada keluarga semakin meningkat lagi.
- Puasa tidak menghalangi ia untuk sekedar menawarkan kecupan anggun kepada para istrinya. Beliau صلي الله عليه وسلم ialah orang yang paling berpengaruh menahan nafsunya.
- Beliau صلي الله عليه وسلم tidak meninggalkan siwak, baik di bulan Ramadhân maupun diluar Ramadhân guna membersihkan mulutnya dan upaya meraih keridhaan Allâh عزّوجلّ.
- Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم pernah berbekam padahal ia صلي الله عليه وسلم sedang menunaikan ibadah puasa. Beliau صلي الله عليه وسلم membolehkan umatnya untuk berbekam sekalipun sedang berpuasa. Pendapat yang kontra dengan ini berarti mansukh (telah dihapus).
- Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم pernah berjihad pada bulan Ramadhân dan menyuruh para shahabatnya untuk membatalkan puasa mereka supaya berpengaruh ketika berhadapan dengan musuh.
- Diantara bukti Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم sayang kepada umatnya yaitu ia صلي الله عليه وسلم membolehkan orang yang sedang dalam perjalanan, orang yang sakit dan orang yang lanjut usia serta perempuan hamil dan menyusui untuk membatalkan puasanya.
- Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadhân bila dibandingkan dengan bulan-bulan lain, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhân untuk mencari lailatul qadr.
- Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhân kecuali pada tahun menjelang wafat, ia صلي الله عليه وسلم beri'tikaf selama dua puluh hari. Ketika beri'tikaf, ia صلي الله عليه وسلم selalu dalam keadaan berpuasa
- Ramadhân ialah Syahrul Qur'ân (bulan al-Qur'ân), sehingga tadarus al-Qur'ân menjadi rutinitas beliau, bahkan tidak ada seorangpun yang sanggup menandingi kesungguh-sungguhan ia صلي الله عليه وسلم dalam tadarus al-Qur'ân. Malaikat Jibril عليه السلام senantiasa tiba menemui ia صلي الله عليه وسلم untuk tadarus al-Qur'ân dengan Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم.
- Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم ialah orang yang dermawan. Kedermawanan ia صلي الله عليه وسلم di bulan Ramadhân tidak sanggup digambarkan dengan kata-kata. Kedermawanan ia صلي الله عليه وسلم menyerupai angin yang bertiup membawa kebaikan, tidak takut kekurangan sama sekali.
- Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم ialah seorang mujahid sejati. Ibadah puasa yang sedang ia صلي الله عليه وسلم jalankan tidak menyurutkan semangat ia untuk andil dalam banyak sekali peperangan. Dalam rentang waktu sembilan tahun, ia mengikuti enam pertempuran, semuanya terjadi pada bulan Ramadhân. Beliau صلي الله عليه وسلم juga melaksanakan banyak sekali acara fisik pada bulan Ramadhân, mirip penghancuran masjid dhirâr, penghancuran berhala-berhala milik orang Arab, penyambutan duta-duta, penaklukan kota Makkah, bahkan ijab kabul ia dengan Hafshah
Intinya, pada masa hidup Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم, bulan Ramadhân merupakan bulan yang penuh dengan keseriusan, usaha dan pengorbanan. Ini sangat berbeda dengan realita sebagian kaum Muslimin ketika ini yang memandang bulan Ramadhân sebagai ketika bersantai, malas-malasan atau bahkan bulan menganggur atau istirahat.
Semoga Allâh عزّوجلّ menawarkan taufik kepada kita untuk selalu mengikuti jejak Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم, hidup kita diatas sunnah dan semoga Allah عزّوجلّ mewafatkan kita juga dalam keadaan mengikuti sunnah Rasûlullâh صلي الله عليه وسلم.


